PSIKOLOGI KEMATIAN


Oleh : Ayat Pamungkas (Koordinator Pusat IMAMUPSI)

Buku Rekomendasi : Psikologi Kematiaan karya Komaruddin Hidayat. 
Menurut pendapat para ahli mengenai arti dari kata kematiaan sebagai berikut,
1.      Papalia
Menurutnya kematian merupakan fakta biologis. Aka tetapi juga memiliki aspek sosial, budaya, sejarah, agama, psikologis perkembangan, dan medis. Dan semua aspek ini memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya.
2.      Santroc
Kematian merupakan berakhirnya fungsi biologis tertentu yang dipandang sebagai unsur-unsur biologis. Seperti pernafasan, peredaran darah dan kakunya tubuh. Ia lebih memaknai kematiaan dari perubahan fisik yang terjadi.
3.      Freudian/ Sigmund Freud
Dalam teorinya ia memiliki 2 konsep insting : insting untuk hidup dan insting untuk mati.
Psikologi kematiaan bukan membahas soal bagaimana kematiaan itu. Tapi ia membahas lebih kepada bagaimana orang yang ditinggalkan.
Menurut Erikfrom (Humanis) kecenderungan untuk hidup merupakan kecendrungan positif dan mati merupakan kecendrungan negatif. Dunia barat memandang kematian sebagai sesuatu yang menakutkan.
Kecendrungan untuk hidup memiliki kekuatan dan spirit untuk hidup. Sedangkan kecendrungan untuk mati menyebabkan timbulnya rasa lemas, tertekan, dan kebenciaan.
Orang yang merasakan sakit cenderung memiliki kondisi yang menurun diberbagai sisi misal sisi psikologisnya, sehingga disaat seperti ini dukungan keluarga dan orang terdekat sangat dibutuhkan. 

Bagaimana islam memandang kematian ?
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (QS. Al Ankabut : 57)
Ayat ini memberikan peringatan bagi umat manusia bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.  Yang dulu ada menjadi tidak ada. Memang tidak semua manusia melewati fase kehidupan yang lengkap, dan hal ini pun membuktikan bahwa kematian tidak hanya datang pada orang-orang yang berumur tua / lansia, namun kematiaan datang secara tiba-tiba dan tak memandang umur. Orang sufi memaknai hidup sebagai tempat untuk singgah. Dan kehidupan yang kekal adalah akhirat.

Apa tujuan kita hidup ?
"Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam."(QS 6 Al An'am ayat 162)
Ayat ini merupakan pengingat bagi kita tentang tujuan kita hidup di dunia. Sebagai umat islam kita sering lupa akan kewajiban kita sebagai muslim. Introspeksi diri merupkan hal yang penting bagi kita agar kita mengetahui apa saja yang telah kita lakukan selama ini dan yang telah kita hasilkan hingga saat ini. Dan kita harslah pintar dalam mengoreksi diri sendiri (muhasabah diri).
Prof. Komaruddin berpendapat bahwa kematian adalah kepulangan. Ada satu nikmat yang sangat dirindukan oleh seua umat musim yaitu bertemu dengan penciptanya yaitu Allah SWT. Kedekatan kita dengan Allah SWT mejadi pengukur kemudahan kita dalam setiap urusan.
Seorang musim yang cerdas pasti mempersiapkan kematian denga baik. Selama kita beribadah, maka hidayah itu akan datang. Hidayah itu datang hanya sekali dan bisa dirasakan nukan dilihat ataupun diucapkan.
Ingatlah bahwa kita akan pulang dan kita harus mempersiapkan segalanya dengan baik. Memaknai hidup bukan dengan membaca karya atau pun hasil orang lain, tetapi memaknai hidup adalah bagaimna kita memaknai diri kita sendiri. Jika kalian merindukan perjumpaan maka tanamkanlah pada diri kita dan persiapkan dengan baik. Secerdas-cerdasnya umat muslim adalah ia yang mengingat tentang kematian.

 Akhiru kalam...
“Hidup kita adalah dari satu ibadah ke ibadah yang lain “- Ayat Pamungkas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSIKOTERAPI ISLAM : TEORI DAN PRAKTIK MENGATASI GANGGUAN KEJIWAAN

MENGAPA KITA BISA INSECURE?

MENGENAL ISTILAH TOXIC PARENTING DAN PENGARUH POLA ASUH TERHADAP PSIKOLOGIS ANAK