Bagaimana Etika Kerja Islam pada Anggota Berinteraksi dengan Komitmen pada Organisasi Keislaman Mahasiswa?
Komitmen organisasi dapat kita definisikan Secara umum yaitu sebagai sejauh mana seorang karyawan yang berdedikasi
untuk organisasi mereka dan bersedia untuk bekerja atas nama organisasi, serta
kemungkinan bahwa mereka akan mempertahankan keanggotaan mereka (Jex &
Britt, 2008).
Menurut Porter, Steers, Mowday, dan Boulian (1973) komitmen adalah
kuatnya pengenalan dan keterlibatan seseorang dalam suatu organisasi tertentu.
Meyer dan Allen (1990) memberikan definisi komitmen organisasi sebagai suatu
konstruk psikologis yang merupakan karakteristik hubungan dari anggota
organisasi dan organisasinya dan memiliki dampak terhadap keputusan individu
tersebut untuk melanjutkan keanggotaannya dalam berorganisasi.
Meyer dan Allen (1991) mengajukan model tiga komponen dari komitmen
organisasi: komitmen afektif, komitmen normatif, dan komitmen kontinu. Seorang
karyawan bisa saja memiliki kombinasi dari ketiga komponen komitmen tersebut:
a)
Komitmen
Afektif adalah keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi karena
keterikatan emosional dengan organisasi, yang dinyatakan dengan identifikasi
dan keterlibatan dalan kegiatan-kegiatan organisasi.
b)
Komitmen
normatif adalah keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi yang bersumber
dari perasaan kewajiban yang dimiliki anggota. Perasaan ini timbul karena
adanya rasa utang budi pada organisasi yang telah memberikan banyak hal pada
individu tersebut.
c)
Komitmen
kontinu merupakan keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi karena sadar
akan kerugian jika meninggalkan organisasi tersebut. Komitmen kontinu hadir
ketika karyawan merasa bahwa mereka akan mendapat keuntungan jika mereka
bertahan dan akan merugikan jika mereka keluar (Yahaya & Ebrahim, 2016).
Komitmen
Organisasi yang didefinisikan sebagai sifat hubungan antara anggota dan
organisasi. Indikator yang digunakan untuk mengukur komitmen organisasi ini
berlandaskan pada tiga dimensi komitmen organisasi oleh Allen dan Meyer (1991)
yaitu komitmen afektif, komitmen kontinu, dan komitmen normatif.
Etika kerja Islam tidak berhubungan
signifikan dengan dimensi komitmen afektif. Artinya bertambahnya tingkat etika
kerja Islam pada diri anggota tidak memiliki hubungan dengan bertambah atau
berkurangnya komitmen afektif individu. Arah hubungan negatif juga tidak dapat
dijelaskan karena kedua variabel ini tidak memiliki hubungan yang signifikan.
Komitmen afektif ini dinyatakan dengan identifikasi dan keterlibatan dalam
kegiatan-kegiatan organisasi (Meyer & Allen 1990). Keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan
organisasi juga menjadi salah satu hal yang berkaitan dengan berkembangnya
komitmen afektif.
Etika kerja Islam tidak berhubungan
signifikan dengan dimensi komitmen kontinu. Artinya bertambahnya tingkat etika
kerja Islam pada diri anggota tidak memiliki hubungan dengan bertambah atau
berkurangnya komitmen kontinu individu. Beck dan Welson (2000) menyebutkan
bahwa komitmen kontinu merupakan kelekatan anggota dengan organisasinya
berdasarkan instrumen atau materi, dimana asosiasi anggota terhadap
organisasinya berdasar pada daya tarik dari reward dan keuntungan ekonomi bukan
dengan adanya kesamaan tujuan dan nilai-nilai. Etika
kerja Islam memerintahkan individu dalam bekerja untuk membayar (utang) atau
apa yang telah diberikan kepada mereka dengan sebaik-baiknya. Etika kerja Islam menganggap bekerja
adalah suatu bentuk kebajikan atau ibadah. Komitmen normatif menjadi dimensi
komitmen yang berhubungan positif dengan etika kerja Islam.
Reference :
Prasetya Pradana1 & Bagus Riyono2
file:///C:/Users/WIN%208.1/Downloads/e-book%20Psikologi%20Islam%20oleh%20API-Himpsi%20(1).pdf
Wah, itu sumbernya dikutip dari path komputer penulis, ya.
BalasHapus