PSIKOLOGI SUFI
Pemateri : Muna Faizah Amatullah
Psikologi
sufi merupakan gambaran usaha dari hubungan antara psikologi barat dan timur.
Psikologi barat yang telah gagal dalam menjawab tantangan dinamika jiwa manusia
dan gagal dalam menyembuhkan psikopatologi, melihat dalam Islam ada sebuah ilmu
yang dapat menjawab kegagalan mereka, yang mereka lihat sebagai sebuah
“tradisi”, untuk memudahkan mereka mendefinisikan dengan psikologi sufi.
Pembahasan
sufi tidak jauh dari pembahasan tasawuf, karena sufi merupakan pelakunya dan
tasawuf adalah ajarannya. Sebagai seorang muslim, kita tahu bahwa tidak semua
ajaran tasawuf itu benar, hal-hal yang menyimpang kita sebut sebagai bid’ah.
Salah satu ajaran sufi yang menyimpang adalah adanya wahdatul wujud, yang telah kita bahas dalam psikologi tasawuf.
Tokoh
sufi generasi awal masih memegang erat ajaran Al qur’an dan sunnah. Imam
al-Junaid bin Muhammad rahimahullah selaku pemimpin dari syekh kaum sufi
mengatakan, “Orang yang tidak hafal Al-Qur’an dan tidak menulis hadist tidak
bisa dijadikan imam dalam masalah ini, karena
ilmu kami ini terikat dengan Al-Qur’an dan sunnah.“
Beberapa
ulama pembaharu muncul dan mencoba mengaitkan lagi antara fikih dan tasawuf
seperti Al-Ghazali (450-550 H), Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnu Qayim (727 H)
yang keduanya mulai mencuci paham-paham tasawuf yang nyleneh.
Psikolog barat tidak benar-benar
mendalami Islam, sehingga mereka menganggap Islam dan sufi adalah sama, padahal
sufi adalah aliran kepercayaan yang muncul setelah Islam. Psikolog barat
membicarakan sufi, tetapi mereka tidak beriman, karena mereka memandang Islam
dari luar Islam sehingga yang mereka lihat islam hanyalah sebuah tradisi atau
kebudayaan yang dapat menjawab tantangan dinamika jiwa manusia.
Kesalahan
terbesar dalam tasawuf adalah menganggap semua agama itu sama (paham
pluralisme), karena hal utama yang menjadi tujuan mereka adalah spiritualisme,
yang jelas-jelas bertentangan dengan aqidah Islam. Selain itu, adanya konsep
sikretisme agama atau paham baru yang merupakan perpaduan dari beberapa aliran
atau agama, seperti: mencampurkan meditasi dan dzikir, yoga dan sholat, dll.
Yang ditakutkan selanjutnya adalah orang akan menganggap ibadah hanyalah
ritual-ritual untuk mendapatkan spiritualitas semata dan mereka kehilangan
agama (Islam) itu sendiri.
Robert
Frager adalah tokoh barat yang mem-booming-kan psikologi sufi, ia memaparkan tiga konsep
utama, yakni: hati, jiwa dan akal. Sebenarnya, inti dari ajaran sifi adalah tadzkiyan nafs. Konsep ini banyak
dibicarakan oleh kalangan ulama-ulama klasik terutama Al-Ghazali dan Ibnu
Qayyim.
Akan
lebih baik, kita tidak mengkotakkan psikologi sufi atau psikologi tasawuf,
karena ditakutkan kita akan terjerumus kedalam pemahaman tasawuf yang
menyimpang. Sebagai ilmuwan psikologi
yang sedang berusaha memajukan ilmu jiwa islam, kita harus menjaga diri dari
pemahaman Islam liberal dan Islam yang menyimpang, karena pemahaman Islam kita
sangat menentukan arah proses Islamisasi psikologi.
Komentar
Posting Komentar